Gunung Sewu

Indonesian Cave and Karst Journal

Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi

Posted by gunungsewu on November 29, 2006

Monday, 27 November 2006,
Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi 

KEBERADAAN goa dan sungai bawah tanah di wilayah DIY belum dikelola dengan baik. Selama ini kesannya masih sepotong-sepotong, kurang terfokus. Padahal goa dan sungai bawah tanah itu punya peranan cukup penting dalam kesinambungan suplai air bagi daerah di sekitarnya.

Begitu pengamatan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DIY, Suparlan. Itu sebabnya, pengelolaan karst menjadi sangat penting. Apalagi guncangan gempa tektonik beberapa bulan lalu, secara tidak langsung semakin memperlebar rekahan yang ada di dalam goa, termasuk goa di Gunungkidul. Akibatnya, longsoran batuan dikhawatirkan bisa menyumbat sungai di sekitar goa.

“Memang, pemantauan kami terhadap kerusakan goa, termasuk yang disebabkan oleh gempa tektonik, masih terbatas. Tapi kami tetap berusaha untuk menjaga lubang atau kubah, termasuk sungai bawah tanah yang ada di dalamnya supaya tidak tercemar. Di antaranya dengan pengelolaan sampah dan air secara komprehensif, dengan harapan bisa mengurangi pencemaran yang ada di daerah itu,” ujarnya.

Walhi DIY mencoba membuat aksi konkret terkait pemberdayaan masyarakat di antaranya melakukan diskusi dan penghijauan dengan menanam pohon mangga di Gunungkidul. “Jika dilihat dari fenomena di lapangan, saya kira pengelolaan karst level-nya harus dinaikkan, sehingga lebih menyeluruh,” terangnya.

Menyadari tingginya tingkat ancaman longsor pada musim penghujan, terutama di pegunungan karst, termasuk di wilayah yang memiliki banyak goa, Suparlan meminta pemerintah untuk memetakan kawasan-kawasan mana yang dianggap rawan. Karena sejauh ini ketika berbicara rekonstruksi, pemetaan kawasan rawan itu sepertinya luput dari perhatian.

Menurut Suparlan, pemetaan tentang kawasan rawan itu seharusnya turut menjadi prioritas agenda rekonstruksi. Tapi sejauh ini upaya riil pemerintah dalam mengantisipasi rawan bencana pasca gempa belum terlihat. “Bahkan, warga masyarakat seperti kesulitan untuk memperoleh akses tentang peta-peta kawasan rawan bencana, sehingga mereka ketika membangun kembali rumahnya merasa tidak aman,” jelasnya.

Suplai Air

Kepala Laboratorium Geologi Tata Lingkungan UGM, Ir Suharyadi MS mengatakan, gempa tektonik tidak hanya mengakibatkan kerusakan bangunan, tapi juga goa dan sungai bawah tanah di beberapa lokasi. Jika tidak segera ditangani, cepat atau lambat akan mempengaruhi kesinambungan suplai air di daerah tersebut.

Goa, lanjutnya, punya peranan cukup penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem yang ada di dalamnya. Karena dalam goa tersebut terdapat sumber mata air yang selama ini belum dikelola secara maksimal. Di samping anggaran terbatas, masih banyaknya goa — termasuk sungai bawah tanah yang belum terdata — secara tidak langsung menjadikan pihak terkait menjadi kesulitan. 

“Memang, sampai saat ini kami belum melakukan penelitian secara khusus terkait dengan kerusakan yang diakibatkan oleh gempa tektonik. Tapi berdasarkan pengamatan, guncangan gempa yang cukup kuat menjadikan retakan yang ada di goa semakin lebar, bahkan berpotensi terjadi longsoran,” katanya.

Masalah kekeringan sering menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Gunungkidul. Padahal, menurut Suharyadi, di daerah tersebut sebenarnya punya potensi cukup besar, termasuk sumber mata air. Tapi karena terbatasnya anggaran dan sarana prasarana yang dimiliki menjadikan potensi tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.Misalnya, untuk daerah Bribin, debitnya berkisar antara 900-1000 liter/detik, tapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 80 liter/detik. Adanya fenomena tersebut perlu mendapat perhatian serius berbagai pihak termasuk pemerintah. Jika hal itu tidak dilakukan, kekeringan menjadi masalah klasik yang sulit untuk diselesaikan, di samping potensi yang dimiliki jadi sia-sia. “Saya kira masalah kekeringan itu bisa diatasi jika sumber-sumber air yang ada di dalam tanah bisa dikelola secara optimal,” katanya.

Dikatakan, jika sampai musim penghujan kerusakan goa tidak segera ditangani, maka rekahannya menjadi semakin lebar dan air hujan banyak yang akan terbuang karena tidak tertampung. 

Untuk menghindari hal itu, pihak terkait perlu mengetahui sungai bawah tanah yang ada di daerah tersebut, termasuk posisi daerah resapan dan serapan. q –e

Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=104529

3 Responses to “Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi”

  1. catros said

    wah mantaf dan komplit…
    mohon izin…boleh share informasi disini ke blog saya ?

  2. Sebagai orang yang lahir dan besar di Gunungkidul, ikut berharap kepada pemerintah dan pihak terkait untuk memperhatikan karst dengan baik. Sungai bawah tanah menjadi urat nadi kehidupan kami….

  3. How fun! I would love to attend a big conference one of these days. Our local group gets together almost every month, so I do get to see some other do Click http://tu2s.in/pookme100845

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: