Gunung Sewu

Indonesian Cave and Karst Journal

Melepas Stres di Lorong Bumi

Posted by gunungsewu on November 12, 2006

Sunday, 12 November 2006
Melepas Stres di Lorong Bumi

MENIKMATI dan mensyukuri keindahan alam, bisa menjadi obat penghilang stres. Wisata alam menjadi pilihan ketika semangat untuk susur alam sudah tak terbendung lagi. Di Bantul, selain ketenaran pantai Parangtritis dan makam raja Imogiri, masih ada objek wisata goa yang tak kalah menarik.

Terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri atau tepatnya 22 Km dari Yogya bertengger Goa Cerme yang menurut sejarahnya adalah tempat pertemuan dari para wali. Ditilik dari namanya, Goa Cerme berasal dari kata Carame (ceramah atau dakwah). Makin dikuatkan dengan bagian dalam goa yang penamaannya menggunakan istilah Islam.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyusuri goa sepanjang 1.200 meter ini. Masuk lewat dusun Srunggo, keluar dari goa sudah menginjakkan kaki di dusun Ploso, Giritirto, Panggang Gunungkidul. Meski hampir seluruh ruangan dalam Goa Cerme gelap namun pemandangan eksotiknya masih tetap bisa dinikmati.

Sebab pemandu wisata dari desa setempat telah menyediakan alat penerangan sederhana, seperti lampu petromak dan senter.

Menurut salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Cerme, Udin, semula terdapat sekitar 40 orang pemandu. Namun pasca gempa bumi 27 Mei 2006 lalu, berkurang jadi 20 orang. Goa Cerme juga tak luput dari goncangan gempa namun hanya menimpa 2 buah gardu pandang serta musala.

”Kerusakan bangunan akan diperbaiki setelah musim hujan karena menunggu pergerakan tanah stabil. Meski begitu saat Lebaran juga menjadi jujugan wisata,” ucapnya.

Lebih dalam menyusuri goa ini, alurnya yang berkelok-kelok dan dihiasi stalagtit dan stalagmit begitu menggoda. Aliran air yang jernih dan di beberapa tempat mencapai kedalaman satu meter, surga bagi yang berhobi susur goa. Terlebih saat kaki menyentuh dinginnya air penat dan stres akibat kerja perlahan hilang. Namun pada musim kemarau ini debit air di dalam goa sedikit menurun dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menyusuri lorong goa, mulai dari pintu masuk pengunjung akan menjumpai bekas panggung pertemuan, air Zamzam, mustaka, air suci, watu kaji, pelungguhan (paseban), kahyangan, grojogan sewu, air panguripan. Selanjutnya gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar.

Sumber air bernama air Zamzam (150 m), Mustaka (175 m), goa Pandu (300 m), Air Suci (400 m), Watu Kaji (400 m), goa Paseban (500 m) dan Kenthongan (500 m). Untuk mendapatkan air Zamzam di Goa Cerme tidak terlalu sulit, yakni di kedalaman sekitar 150 meter dari mulut goa. Pengunjung bisa mengambil air tersebut dalam bongkahan stalagmit berbentuk cekung. Mirip cawan raksasa berdiameter sekitar 100 Cm.

Lebih ke dalam lagi (500 m dari mulut goa) terdapat sebuah tempat lapang berukuran 3 X 3 meter atau yang dikenal dengan goa Paseban. Goa yang dilengkapi stalagtit mirip kenthongan ini menurut riwayatnya dulu digunakan para Wali sebagai tempat pertemuan.

Goa Selarong

Masih di Bantul, Goa Selarong selain dikenal sebagai objek wisata alam, dulunya dikenal sebagai pusat penghasil buah jambu biji. Sekitar tahun 1980-an, nama Goa Selarong memang identik dengan jambu biji. Sebab saat itu disekitar goa hampir semua lahan ditanami jambu biji oleh warga setempat.

Namun kini jambu itu tak lagi menjadi ciri khas Goa Selarong menyusul matinya pohon-pohon jambu biji yang ada. Walau demikian, kawasan objek wisata ini tetap memiliki pemandangan alam yang indah serta cocok untuk kegiatan Pramuka, camping dan jelajah alam.

Di masa lampau goa ini digunakan sebagai markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825-1830. Konon, Pangeran Diponegoro pindah ke Goa Selarong setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda.

Ia dan keluarga serta pengikutnya bersembunyi di goa tersebut. Ada dua goa yang dijadikan tempat tinggal Pangeran Diponegoro, satu goa untuk keluarga Pangeran Diponegoro dan satu lagi untuk pengikutnya.

Goa Selarong berlokasi sekitar 14 km arah barat daya Kota Yogyakarta tepatnya di Kalurahan Guwosari Kecamatan Pajangan.

Lokasinya di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari objek tersebut. Di sekitar GoaSelarong terdapat sentra kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan lain-lain. Pemerintah Kabupaten Bantul sedang mengembangkan kawasan Goa Selarong sebagai objek agrowisata dengan tanaman klengkengnya.

Goa Jepang

Selain Goa Cerme dan Selarong, Kabupaten Bantul juga memiliki goa lain yang cukup potensial dijadikan objek wisata. Goa ini memang belum banyak dikenal orang meski letaknya tak jauh dari Pantai Parangtritis.

Namanya Goa Jepang, yang konon merupakan bunker pertahanan Jepang pada masa Perang Dunia II. Goa yang masuk wilayah Dusun Ngreco dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, merupakan peninggalan Perang Dunia II. Sebagai sarana pertahanan militer di zaman Jepang pada tahun 1942-1945, terutama setelah Jepang mempertahankan diri dari sekutu di Indonesia .

Goa Jepang ini dibuat untuk memenuhi keperluan perang gerilya. Sebab militer Jepang memperkirakan, tentara sekutu akan datang melewati laut selatan dan mendarat di sekitar Pantai Parangtritis.

Di dalam goa ini ada 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh. Bentuk bunker tersebut beranekaragam, serta mempunyai fungsi yang berlainan pula. Misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur.

Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm, dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bunker-bunker tersebut dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi sekitar 1 m.

Pegunungan Sewu

Berbagai goa alam pun bisa ditemui di kawasan karst (kapur -red) di Pegunungan Sewu di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah seluas 13 ribu km2 ini terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Terbentang sampai ke kawasan Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur).

Selain keunikan tiada duanya berupa kerucut karst (conical limestone) yang jumlahnya sekitar 4.000 buah, kubah (doline) dan lembah (poltje), juga goa-goanya. Lengkap dengan stalagtit dan stalagmit, serta sungai di bawah tanah. Goa Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci, sering dijadikan ajang susur Goa(caving) oleh para pecinta alam.

Sedangkan Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis, merupakan goa yang menjadi objek wisata sejarah dan religius.

Sejumlah arkeolog Indonesia yang pernah melakukan penelitian ke sana menyebutkan, sekitar 4.000 tahun lampau, banyak goa di Kabupaten Gunungkidul yang merupakan bekas hunian manusia purba. Seperti di Song Tritis dan juga Goa Braholo.

Anggapan seperti ini diperkuat dengan penemuan artefak budaya megalitikum dan peti kubur berbagai ukuran dan bentuk di kawasan karst wilayah Desa Munggur, Sukoliman, dan Gunung Bang. Usia benda-benda pra-sejarah ini diperkirakan sekitar 2.000 tahun.

Terancam Penambangan

Sehingga selain sebagai ajang wisata dan olahraga alam, goa-goa di kawasan karst juga merupakan aset riset ilmiah.Namun demikian, hal ini ternyata harus berbenturan dengan kepentingan ekonomi, khususnya penambangan batu karst. Seperti di Goa Lawa yang telah menjadi sasaran penambangan.

Pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu pun mengakui, pemanfaatan goa sebagai objek wisata memang belum maksimal. Apalagi seluruh goa di Gunungkidul yang telah teridentifikasi sebanyak 119 goa! Menyebar di tujuh kecamatan, dan empat sungai bawah tanah.

Instansi itu masih berupaya menggabungkan daya tarik wisata goa dengan objek wisata sungai bawah tanah. Dalam mendayagunakan objek wisata ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gunungkidul memerlukan keterpaduan dengan aspek keilmuan untuk menghasilkan objek wisata ilmiah.(Anik P/Subchan M/Hari S)-b.
Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=102835

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: