Posted by gunungsewu on November 23, 2006
J. Susetyo Edy Yuwono . PTKA UGM
ABSTRAK
Bentangalam karst beserta potensi yang dikandungnya, termasuk fitur-fitur guanya, mendasari upaya pelacakan aspek keruangan suatu kawasan yang bernilai geokultural. Terkait dengan hal tersebut, posisi Kompleks Gua Pawon di kawasan karst Citatah menjadi sangat strategis. Sebagaimana dilaporkan sementara ini, Kompleks Gua Pawon adalah situs arkeologi gua satu-satunya di Jawa Barat. Penelitian terhadap Gua Pawon selama ini, sebenarnya sudah menggambarkan posisi penting Kompleks Gua Pawon dalam berbagai aspek. Namun kontribusi penelitian yang bersifat makro perlu dirumuskan, agar dinamika keprasejarahan Gua Pawon dalam kerangka morfoaransemennya dengan kawasan non karst di sekitarnya dapat dipahami, sejajar dengan kawasan karst lainnya yang sudah lebih banyak dieksplorasi. Akselerasi kerusakan bentangalam karst Citatah akibat kegiatan pertambangan, menjadi tuntutan lain untuk mengkaji lebih dalam potensi geoarkeologi Kompleks Gua Pawon dalam bingkai pengembangan keilmuan dan pelestarian kawasan.
Posted in Vol 1 No 2 Nov 2005 | 1 Comment »
Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh: Sunu Widjanarko
ABSTRAK
Penggambaran peta gua menggunakan metoda koordinat polar maupun kartesian selalu menghasilkan kesalahan dalam peletakan titik dan pembuatan garis. Dan terkadang peta gua dibutuhkan bukan hanya dalam bentuk tampak atas atau samping saja, tetapi dalam bentuk perspektif. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran menggambar peta gua menggunakan software AutoCAD yang dapat menghilangkan kesalahan akibat kesalahan manusia dan alat gambar tersebut. Hasil dari penggambaran peta gua menggunakan AutoCAD ini bukan hanya dalam bentuk outline seperti pada peta tampak atas atau samping, namun juga menghasilkan peta gua yang terlihat seperti bentuk lorong gua sebenarnya.
Teknik menggambar yang dipergunakan dalam penggambaran peta gua menggunakan AutoCAD ini adalah menggambar garis (line) untuk menggambar garis-garis survai, menggambar polyline dan menghaluskan polyline menjadi sebuah smooth polyline untuk menggambar penampang melintang (cross section) tiap stasiun, menggambar mesh untuk menggambar dinding lorong, dan menentukan tekstur serta warna dinding lorong gua agar tampilan ahkirnya seperti kondisi gua sebenarnya.
Hasil percobaan penggambaran peta gua menggunakan AutoCAD menunjukkan bahwa penggambaran peta gua dapat langsung menggunakan data mentah jika tidak membutuhkan koreksi kesalahan penutup dan kalibrasi alat. Dapat pula menggunakan koordinat kartesius jika dilakukan perhitungan terlebih dahulu. Gambar akhir peta gua dapat dilihat dari semua arah dan dengan sudut kemiringan yang dapat dipilih sesuka hati. Tekstur dan warna dapat pula dipilih sesuai dengan keinginan agar mendekati kondisi sebenarnya. Namun pada gambar akhir terlihat bahwa batas dinding antar stasiun masih patah atau kaku. Tidak halus seperti sebuah belokan di gua sebenarnya.
Kata kunci: menggambar peta gua, peta gua tiga dimensi, autocad
Posted in Vol 1 No 2 Nov 2005 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 22, 2006
Oleh:Arzyana Sunkar
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata,
Fakultas Kehutanan IPB
ABSTRAK
Ketergantungan yang tinggi terhadap lahan untuk kebutuhan hidupnya serta menghadapi kenyataan kelangkaan sumberdaya alam yang mendukung produktifitas lahan, yaitu air, tanah dan lahan, telah membuat para petani di Kecamatan Rongkop, Tepus dan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, mengembangkan strategi-strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang mampu meningkatkan efisiensi produktifitas lahan mereka. Pada ketiga kecamatan ini, masyarakatnya menggunakan cara-cara tradisional untuk mengkonservasi dan memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien yang sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat menilai sumberdaya-sumberdaya alam tersebut secara sosial dan budaya. Nilai-nilai sosial dan budaya merupakan konsep kunci untuk memahami pola adaptasi para petani terhadap lingkungannya serta motivasi di balik pemanfaatan sumberdaya alam. Bagi para petani, masyarakat dipandang sebagai sumber keamanan dan alam sebagai sumber kehidupan.
Terdapat 3 pola adaptasi terhadap kelangkaan sumberdaya karst di Gunung Sewu, yaitu adaptasi budaya melalui filosofi hidup; adaptasi fisik yang terdiri dari adaptasi terhadap ketidaksuburan tanah melalui agrosilvopastur, input pertanian dan manajemen limbah rumahtangga, adaptasi terhadap keterbatasan luas lahan subur melalui pengembangan pekarangan, penggunaan kantung-kantung batukapur (limestone pockets), serta adaptasi terhadap kelangkaan air melalui sistem pertanian dan seleksi tanaman, waktu bera, konservasi air secara tradisional; dan adaptasi sosial melalui migrasi musiman, pola konsumsi, pendidikan serta jumlah anak.
Kata kunci : adaptasi, karst Gunung Sewu, pemanfaatan sumberdaya alam
Posted in Vol 1 No 2 Nov 2005 | 2 Comments »
Posted by gunungsewu on November 22, 2006
Oleh: IR. Srijono, M.S.
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM
ABSTRAK
Rencana tata ruang kawasan karst perlu memadukan upaya perlindungan dengan pola pemanfaatan lahan berbasis sumberdaya lokal, dan strategi pengembangan wilayah & penataan ruang, inventarisasi & evaluasi geologi lingkungan.
Geologi Pengembangan Wilayah (GPW) merupakan cabang geologi, menerapkan pemikiran geologi dalam perencanaan pengembangan wilayah, bermanfaat dalam mendukung mata kuliah Geologi Lingkungan, Eksplotasi Tambang, dan Eksploitasi Airtanah. Sub Pokok Bahasan mencakup: ikhtisar bentangalam kawasan karst, potensi sumberdaya geologi kawasan karst, potensi bencana geologi kawasan karst, metode pengembangan wilayah kawasan karst, dan analisis & manajemen resiko.
Klasifikasi bentangalam kawasan karst terdiri dari karst mikro dan makro, atau eksokarst dan endokarst, atau mesokarst dan holokarst. Potensi sumberdaya geologi kawasan karst terdiri dari sumberdaya lahan, dan bahan galian. Bahan galian terbanyak kelompok BGG-C jenis batugamping mecakup air bawah tanah, dalam jumlah sedikit dijumpai BGG-B antara lain flour/F dan mangan/Mn, serta dijumpainya mineralisasi emas/Au meskipun langka. Potensi bencana geologi kawasan karst berpangkal tolak dari pembawaan batugamping yang mudah mengalami pelarutan oleh air, dan rapuh; mengakibatkan potensial terjadi longsor lahan pada eksokarst, runtuh atap gua, banjir pada sungai bawah tanah. Selain bencana alami, berpotensi terjadi bencana geologi buatan, yaitu longsor lahan akibat penambangan, penurunan topografi dapat berlanjut kepada perubahan tata air permukaan dan bawah permukaan. Metode geologi pengembangan wilayah kawasan karst mengikuti alur pikir: inventarisasi dengan pemetaan, klasifikasi, zonasi dan evaluasi tapak peruntukan rencana.
Kata kunci : geologi, pengembangan wilayah karst, bentangalam
Makalah ini telah dipresentasikan pada Seminar Nasional Pertanian Kawasan Karst Regional Selatan-selatan Jawa, di Universitas Negeri Soedirman Purwokerto, 6-7 Agustus 2005
Posted in Vol 1 No 2 Nov 2005 | 2 Comments »