Gunung Sewu

Indonesian Cave and Karst Journal

Archive for the ‘Cave and Karst News’ Category

Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi

Posted by gunungsewu on November 29, 2006

Monday, 27 November 2006,
Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi 

KEBERADAAN goa dan sungai bawah tanah di wilayah DIY belum dikelola dengan baik. Selama ini kesannya masih sepotong-sepotong, kurang terfokus. Padahal goa dan sungai bawah tanah itu punya peranan cukup penting dalam kesinambungan suplai air bagi daerah di sekitarnya.

Begitu pengamatan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DIY, Suparlan. Itu sebabnya, pengelolaan karst menjadi sangat penting. Apalagi guncangan gempa tektonik beberapa bulan lalu, secara tidak langsung semakin memperlebar rekahan yang ada di dalam goa, termasuk goa di Gunungkidul. Akibatnya, longsoran batuan dikhawatirkan bisa menyumbat sungai di sekitar goa.

“Memang, pemantauan kami terhadap kerusakan goa, termasuk yang disebabkan oleh gempa tektonik, masih terbatas. Tapi kami tetap berusaha untuk menjaga lubang atau kubah, termasuk sungai bawah tanah yang ada di dalamnya supaya tidak tercemar. Di antaranya dengan pengelolaan sampah dan air secara komprehensif, dengan harapan bisa mengurangi pencemaran yang ada di daerah itu,” ujarnya.

Walhi DIY mencoba membuat aksi konkret terkait pemberdayaan masyarakat di antaranya melakukan diskusi dan penghijauan dengan menanam pohon mangga di Gunungkidul. “Jika dilihat dari fenomena di lapangan, saya kira pengelolaan karst level-nya harus dinaikkan, sehingga lebih menyeluruh,” terangnya.

Menyadari tingginya tingkat ancaman longsor pada musim penghujan, terutama di pegunungan karst, termasuk di wilayah yang memiliki banyak goa, Suparlan meminta pemerintah untuk memetakan kawasan-kawasan mana yang dianggap rawan. Karena sejauh ini ketika berbicara rekonstruksi, pemetaan kawasan rawan itu sepertinya luput dari perhatian.

Menurut Suparlan, pemetaan tentang kawasan rawan itu seharusnya turut menjadi prioritas agenda rekonstruksi. Tapi sejauh ini upaya riil pemerintah dalam mengantisipasi rawan bencana pasca gempa belum terlihat. “Bahkan, warga masyarakat seperti kesulitan untuk memperoleh akses tentang peta-peta kawasan rawan bencana, sehingga mereka ketika membangun kembali rumahnya merasa tidak aman,” jelasnya.

Suplai Air

Kepala Laboratorium Geologi Tata Lingkungan UGM, Ir Suharyadi MS mengatakan, gempa tektonik tidak hanya mengakibatkan kerusakan bangunan, tapi juga goa dan sungai bawah tanah di beberapa lokasi. Jika tidak segera ditangani, cepat atau lambat akan mempengaruhi kesinambungan suplai air di daerah tersebut.

Goa, lanjutnya, punya peranan cukup penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan ekosistem yang ada di dalamnya. Karena dalam goa tersebut terdapat sumber mata air yang selama ini belum dikelola secara maksimal. Di samping anggaran terbatas, masih banyaknya goa — termasuk sungai bawah tanah yang belum terdata — secara tidak langsung menjadikan pihak terkait menjadi kesulitan. 

“Memang, sampai saat ini kami belum melakukan penelitian secara khusus terkait dengan kerusakan yang diakibatkan oleh gempa tektonik. Tapi berdasarkan pengamatan, guncangan gempa yang cukup kuat menjadikan retakan yang ada di goa semakin lebar, bahkan berpotensi terjadi longsoran,” katanya.

Masalah kekeringan sering menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Gunungkidul. Padahal, menurut Suharyadi, di daerah tersebut sebenarnya punya potensi cukup besar, termasuk sumber mata air. Tapi karena terbatasnya anggaran dan sarana prasarana yang dimiliki menjadikan potensi tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara optimal.Misalnya, untuk daerah Bribin, debitnya berkisar antara 900-1000 liter/detik, tapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 80 liter/detik. Adanya fenomena tersebut perlu mendapat perhatian serius berbagai pihak termasuk pemerintah. Jika hal itu tidak dilakukan, kekeringan menjadi masalah klasik yang sulit untuk diselesaikan, di samping potensi yang dimiliki jadi sia-sia. “Saya kira masalah kekeringan itu bisa diatasi jika sumber-sumber air yang ada di dalam tanah bisa dikelola secara optimal,” katanya.

Dikatakan, jika sampai musim penghujan kerusakan goa tidak segera ditangani, maka rekahannya menjadi semakin lebar dan air hujan banyak yang akan terbuang karena tidak tertampung. 

Untuk menghindari hal itu, pihak terkait perlu mengetahui sungai bawah tanah yang ada di daerah tersebut, termasuk posisi daerah resapan dan serapan. q –e

Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=104529

Posted in Cave and Karst News | 1 Comment »

PENYELAMATAN GOA TAK BISA DITUNDA; Ribuan Warga Bergantung Sungai Bawah Tanah

Posted by gunungsewu on November 29, 2006

Monday, 27 November 2006,
PENYELAMATAN GOA TAK BISA DITUNDA; Ribuan Warga Bergantung Sungai Bawah Tanah 


 

Ketika tanah diguncang gempa, bukan hanya bangunan di atas tanah yang ikut bergerak, tapi juga goa dan aliran sungai bawah tanah. Begitu pula ketika gempa jenis strike slip dengan arah vertikal menggoyang Yogya. Akibatnya, sejumlah wilayah kehilangan sumber air, sebagian yang lain justru debit airnya meningkat. Tak terkecuali keberadaan goa. Beberapa goa terancam longsoran batu. Pemerintah perlu cepat bertindak. Jika tidak, musim penghujan bisa mengancam sumber air bawah tanah.
BANYAK goa di wilayah DIY. Sebagian jadi objek wisata, tapi ada juga yang dimanfaatkan sumber airnya untuk kepentingan masyarakat sekitar. Salah satunya Goa Cerme, yang sebagian masuk wilayah Bantul dan lainnya masuk Gunungkidul. Lantaran sumber air di dalam goa melimpah, warga sekitar memanfaatkan untuk irigasi dan kebutuhan sehari-hari.

Selain sebagai objek wisata, menurut Lurah Selopamioro Imogiri, Sukro Nur Harjono, Goa Cerme menjadi andalan warga sekitar untuk bisa mendapatkan air bersih. Sebab, goa tersebut menampung air sangat banyak, bahkan tak pernah kering sepanjang tahun. Setidaknya ratusan KK dari Dusun Kalidadap I serta Srunggo I dan II mengandalkan sumber air dari goa tersebut.

Dengan beberapa bak penampung, air dari Goa Cerme tersebut didistribusikan ke rumah-rumah penduduk dengan pralon atau selang. Tanpa suplai air dari goa, warga akan kesulitan mendapat air bersih, terutama pada musim kemarau. “Sepanjang tahun, air dari goa ini tidak pernah kering, meski pada musim kemarau debitnya berkurang. Sedangkan kualitas air saya yakin cukup baik, karena jika dilihat secara cermat sangat bening dan selama ini juga aman dikonsumsi,” katanya.

Saat terjadi gempa, ada bagian dari Goa Cerme yang retak atau bergeser dari posisi semula, sehingga menimbulkan tonjolan cukup mengkhawatirkan. “Meski cukup jauh dari perumahan penduduk, namun pecahan goa tersebut pada musim hujan nanti kami khawatir bisa menimbulkan longsornya tanah,” ujarnya.

Pecahan itu cukup panjang karena sampai perbatasan dengan wilayah Gunungkidul, sehingga pada musim hujan pecahan tanah pegunungan yang melintang di atas Goa Cerme dikhawatirkan bertambah parah dan bisa terjadi longsoran tanah.

Suara Gemuruh

Diakui Sukro Nur Harjono, pasca gempa wilayah itu memang sering terdengar suara gemuruh seperti tanah longsor namun di bawah tanah. Sumber dari suara tersebut memang belum ada yang bisa memastikan di mana. Sebab jika dari sekitar goa konon berasal dari arah barat daya, namun jika dari arah yang lain berasal dari goa.

“Kami juga tak tahu penyebab terjadinya suara itu. Namun yang jelas berasal dari bawah tanah, seperti ketika terjadi tanah longsor. Frekuensi suara tersebut terus berkurang sejak gempa bumi hingga saat ini. Justru yang kami khawatirkan adalah ketika nanti terjadi hujan lebat, apakah akan mempengaruhi letak tanah atau tidak,” tambah Sukro.

Meski tak setenar Goa Cerme, di Selopamioro juga terdapat Goa Lawa yang selama ini menyimpan air tanah cukup melimpah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, air dari Goa Lawa dimanfaatkan warga di Dusun Nawungan dan sebagian Dusun Nogosari. Saat ini juga telah dibuat bak-bak penampungan, sehingga memudahkan warga untuk memperoleh air bersih dari sumber tersebut.

Diakui, Goa Cerme dan Goa Lawa sangat berarti bagi warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang menjadi andalan warga, sehingga keberadaannya akan terus dijaga karena menyangkut kehidupan ratusan jiwa.

Berbeda dengan Goa Permoni yang terletak di pegunungan Karangwuni Trimulyo Jetis. Meski goa ini menyimpan air, tapi belum dimanfaatkan oleh warga sekitar. Saat gempa, terjadi longsoran batu cukup besar. Memang tak merusak goa, namun batu tersebut terletak di bagian sisi goa, sehingga dalam jangka panjang terutama pada musim hujan bisa mengancam keselamatan goa.

Menurut Kasubdin Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata Bantul, Ir Ign Bambang Sugiantoro, goa di Bantul berbeda dengan goa di Gunungkidul. Selain terletak di permukaan tanah, goa di Bantul kebanyakan tidak terdapat sumber air di dalamnya. “Tekstur tanahnya berbeda. Kalau di Gunungkidul banyak luweng,” katanya.

Berdasarkan catatan Disparta Bantul, terdapat 4 goa besar yaitu Goa Cerme di Srunggo Selopamioro Imogiri, Goa Selarong di Guwosari Pajangan, Goa Gajah di Lemahabang Mangunan Dlingo dan Goa Jepang di Seloharjo Pundong. Sedangkan goa-goa kecil tersebar di kawasan pegunungan di Piyungan, Pleret, Jetis, Imogiri dan Sedayu.

Goa Karst

Dari hasil pemetaan yang dilakukan Mc Donald dari Inggris pada tahun 1984, di Gunungkidul terdapat 200 goa aktif, baik yang berada di wilayah zona selatan maupun di zona utara. Sementara menurut ahli spedeologi (pergoaan) yang tergabung dalam Yayasan Asitya Cunyata, di Gunungkidul terdapat 402 goa tersebar di 18 kecamatan.

Tapi yang menarik, Gunungkidul memiliki kawasan ekosistem karst sepanjang perbukitan Gunungsewu mulai dari Kabupaten Kebumen Jawa Tengah hingga Pacitan Jawa Timur. Kawasan karst yang tidak ada duanya di Asia Tenggara ini, di dalamnya terdapat goa yang masih aktif dan hampir seluruhnya terdapat sungai bawah tanah.

Goa yang memiliki sungai bawah tanah dan sudah dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi penduduk Gunungkidul, di antaranya Goa Bribin di Desa Dadapayu Kecamatan Semanu, Goa Seropan di Desa Gombang Kecamatan Ponjong, Goa Ngobaran di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari, Goa Baron di pinggir Pantai Baron Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari dan Goa Cerme di Desa Giritirto Kecamatan Purwosari.

Menurut Kepala Bappeda Gunungkidul H Eko Subiantoro SH didampingi pakar karst dan pergoaan Bappeda Gunungkidul Ir Birowo, masih banyak goa-goa yang di dalamnya terdapat aliran sungai bawah tanah seperti Goa Lawa di Karangtengah Wonosari, Goa Beton Desa Umbulrejo Kecamatan Ponjong, Goa Sundak di tepi Pantai Sundak Kecamatan Tepus, Goa Pego di Desa Giriasih Purwosari dan masih ada ratusan goa lainnya.

Untuk mengelola sungai bawah tanah yang ada di Bribin, lebih dahulu dilakukan penelitian oleh para ahli. Bahkan Pemerintah Propinsi DIY dan Kabupaten Gunungkidul serta Batan DIY mendatangkan ahli dari Jerman untuk meneliti sungai bawah tanah berikut karakteristik goa dan bebatuan yang ada di dalamnya. Karena pada dasarnya batu yang ada di dalam goa merupakan batu gamping yang mudah luntur atau hancur, terlebih ketika terjadi perubahan alam seperti gempa bumi.

Kerusakan

Ketika terjadi gempa 27 Mei lalu, sudah diketahui sedikitnya ada dua goa mengalami kerusakan, di antaranya Goa Bribin di Kecamatan Semanu dan Goa Cerme di Desa Giritirto Kecamatan Purwosari—sebagian masuk wilayah Bantul. Kerusakan pada
Goa Bribin ini diketahui setelah tim dari Batan Yogyakarta melakukan pemantauan bersama pihak kontraktor pembuatan bendungan dan turbin dari PT Waskita Karya mengetahui volume air di kawasan calon bendungan semakin bertambah.

Setelah dilakukan survei, ternyata ada batu yang runtuh dan besarnya kurang lebih 1.500 meterkubik pada arah selatan dari titik pengeboran yang dilakukan Pemerintah Jerman. Masyarakat sekitar lokasi pengeboran tidak mengetahui bahwa di dalam perut bumi dengan kedalaman lebih dari 100 meter dari permukaan bumi ini terjadi runtuhan dahsyat, sehingga menutup aliran sungai bawah tanah. “Akibatnya, runtuhan itu mengganggu proses pembangunan bendungan yang mestinya sudah harus selesai beberapa bulan lalu,” kata Eko Subiantoro.

Masyarakat baru mengetahui terjadi runtuhan, setelah ada pemberitahuan resmi dari pemerintah setempat lewat kontraktor dan pihak Batan Yogyakarta. Untungnya, lokasi pengeboran Bribin jauh dari permukiman atau kurang lebih berjarak 3 kilometer.

Demikian pula Goa Cerme di Giritirto, sebenarnya belum diketahui kerusakan di dalam goa tersebut, namun yang jelas di lokasi terjadi retakan tanah sepanjang 3 kilometer dari bukit Blado hingga mulut goa yang juga memiliki sumber air minum tersebut.

Masyarakat sekitar khususnya di Dusun Blado, Desa Giritirto ketakutan dengan adanya retakan tanah tersebut. “Bahkan hingga kini tidak satupun yang berani memasuki kawasan Goa Cerme setelah diketahui ada retakan yang semakin lama semakin lebar, apalagi jika terjadi gempa susulan,” papar Lurah Desa Giritirto Suwarno SP dan juga dibenarkan beberapa warga Blado.

Selain dua goa yang kini diketahui rusak, Pemkab Gunungkidul belum mengetahui goa lain yang juga mengalami kerusakan. Namun dalam waktu dekat ini, Pemkab Gunungkidul lewat Bappeda setempat akan melakukan inventarisasi dan pengamatan lapangan terhadap keberadaan goa, termasuk goa yang rusak maupun goa baru yang ditemukan masyarakat. Goa ini rata-rata memiliki kedalaman 25 meter lebih.

Dengan terjadinya kerusakan goa, apalagi goa yang di dalamnya terdapat sumber air, perlu ada upaya penyelamatan. Pemkab Gunungkidul lewat Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta kantor Pengendalian Dampak Lingkungan juga sudah melakukan gerakan penghijauan di kawasan daerah tangkapan hujan, untuk mengantisipasi agar sungai bawah tanah tidak kering atau paling tidak debitnya menurun. Jika debit air di sungai bawah tanah baik di Bribin dan Seropan berkurang atau bahkan kering, maka bencana besar akan mengancam penduduk Gunungkidul. Karena dari dua sumber ini masyarakat di beberapa kecamatan memperoleh pasokan air minum, seperti Kecamatan Semanu, Ponjong, Karangmojo, Semin, Ngawen, Tepus, sebagian Tanjungsari, Rongkop dan Girisubo.

Terkait keberadaan goa yang rusak pasca gempa, Kepala Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Ir Adi Mursito mengatakan, hingga sekarang lembaga ini belum melakukan pengamatan di lapangan. Selama ini masih bertumpu pada penyelamatan lingkungan terutama pada areal telaga yang ada di daerah ini. 

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Yogya, Kusdarwanto, juga mengungkapkan hal serupa. “Kalau melihat terjadinya kerusakan di pegunungan karst, kemungkinan kerusakan itu juga masuk di dalam goa-goa,” ujarnya. 

Untuk mengkaji lebih teliti tentang ada tidaknya kerusakan goa, menurut Kusdarwanto, perlu dibentuk tim yang melibatkan banyak ahli. Dengan demikian hasil yang diperoleh lebih valid dan menyeluruh. q –e

Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=104527

Posted in Cave and Karst News | Leave a Comment »

DIGELAR DESEMBER 2006; Penjelajahan Bengawan Solo Purba

Posted by gunungsewu on November 28, 2006

Sunday, 26 November 2006
DIGELAR DESEMBER 2006; Penjelajahan Bengawan Solo Purba

DITILIK dari namanya, memang merupakan situs purba. Namun panorama alamnya sangat indah dan dapat menarik perhatian banyak wisatawan. Bagi mereka yang tak ingin susah mendalami riwayat sungai Bengawan Solo, dapat menjelajah wilayah ini dengan menikmati cekungan yang rendah ditengah bukit-bukit menjulang.

Ya, Dinas Pariwisata Gunungkidul akan menggelar acara spektakuler, menjelajah situs Bengawan Solo Purba. Menyusuri bentangannya yang panjang, dari Sadeng hingga Wonogiri Jawa Tengah. Kegiatan yang akan digelar bulan Desember ini akan diikuti para pecinta alam, pemerhati warisan budaya dan masyarakat kebanyakan.

Napak tilas ini untuk mengenang alur sungai Bengawan Solo, yang dulu alirannya pernah ke Laut Selatan. Tetapi sekarang berbelok ke laut Jawa. ”Sudah tentu event ini juga dimaksudkan untuk membangun objek wisata baru didaerah ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul H Suhardono S.Sos didampingi Kasi Objek Wisata Drs Bambang Sukemi MM.

Bagi wisatawan yang pernah mengunjungi pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, sebenarnya sudah melintas sebagian kawasan Bengawan Solo Purba. Karena sebagian kawasannya berada di tanjakan Telaga Suling yang curam.

Meski demikian bagi yang tak memperhatikan, tak terlintas di pikiran, wilayah tersebut semula merupakan aliran Bengawan Solo. Tetapi jika dicermati, jauh membujur ke arah utara merupakan bekas alur sungai yang besar yang mengalir dicelah-belah bukit yang menjulang.

Dialihkan Proses Tektonik

Mengutip beberapa penelitian, Bambang Sukemi MM menyatakan peralihan aliran sungai Bengawan Solo ini karena terjadinya proses tektonik. Ketika itu terjadi, kecepatan pengangkatan (up lift ) tidak diimbangi oleh proses penggerusan aliran Bengawan Solo.

Akibatnya alirannya terbendung dan terbentuk danau, disekitar daerah Baturetno dan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Lambat laun genangan air itu mempunyai jalan keluar (outlet) menuju daerah yang lebih rendah ke arah utara. ”Sehingga menjadikan Bengawan Solo mengalir ke Laut Jawa sampai sekarang,” tambahnya.

Akibatnya, Sadeng yang semula menjadi aliran sungai Bengawan Solo kini tinggal riwayatnya saja.

”Barangkali juga dapat dicermati lirik lagu keroncong Bengawan Solo yang dibawakan Gesang. Di dalamnya antara lain menyebut alirannya sampai jauh, terkurung gunung seribu. Sehingga kebenaran aliran ke Laut Selatan merupakan kenyataan sejarah,” jelasnya.

Sejatinya, Dinas Pariwisata Gunungkidul sudah beberapa kali melakukan kegiatan yang berkaitan dengan keberadaan Bengawan Solo Purba. Sudah banyak pula para ahli melakukan penelitian. Serta juga sejumlah wisatawan dengan minat khusus yang berdatangan.

Tetapi acara jelajah Situs Bengawan Solo Purba ini diharapkan merupakan momentum untuk mengajak banyak orang berdatangan ke lokasi bekas aliran sungai Bengawan Solo. Peserta jelajah nanti akan berjalan kaki menyusur bekas aliran sungai tersebut.

”Jika dulu merupakan aliran sungai, biarlah kini menjadi aliran wisatawan yang masuk wilayah Gunungkidul. Sebab kegiatan ini diharapkan tak hanya menambah jumlah jenis wisata. Tapi juga menjadi maskot baru yang dapat menyedot kunjungan wisata,” ucap Bambang Sukemi.

Telaga Jonge

Telaga Jonge di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, juga menarik untuk digarap menjadi wisata alternatif lainnya di Gunungkidul. Selain alur Bengawan Solo purba dan kawasan karst Pegunungan Sewu. Air di telaga seluas 4,5 hektar ini sepanjang tahun tak pernah kering.

”Selama ini Kecamatan Semanu kini dikenal sebagai kawasan industri olahan batu. Sebab hampir seluruh pabrik gilingan batu di Gunungkidul berada di wilayah Mijahan, desa Semanu. Tetapi ke depan pemerintah kecamatan segera menggarap pengembangan Telaga Jongke sebagai wisata air di Gunungkidul, yang selama ini identik dengan pantai,” kata Camat Semanu, Drs Sujarwo MSi, didampingi Sekcamnya, Drs Wastono, dalam perbincangan beberapa waktu lalu.

Tak hanya wisata air saja, imbuhnya, di lokasi itu juga dikembangkan keramba apung, pusat jajan dengan menu ikan dan berbagai jenis wisata lain, yang diharapkan memikat wisatawan. Jarak jangkaunya pun sangat dekat dari pusat perkotaan. Telaga Jonge terletak dekat dengan pemukiman penduduk, tetapi tetap mempunyai hamparan padang yang luas.

Sehingga wisatawan dapat menikmati panorama alam yang indah dan alami. ”Di seputar telaga ini dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Penggemar memancing dapat menyalurkan kegemaran dengan mengitari telaga, tanpa harus berdesakan,” tambah Sujarwo.

Kecamatan Semanu yang berbatasan dengan Kota Wonosari, selama ini dikenal dengan Goa Bribin-nya, yang memiliki sumber air tawar. Kecamatan yang luas wilayahnya 4.666.2385 hektar ini, mempunyai penduduk 58.602 jiwa yang tersebar di lima desa. Masing-masing Ngeposari, Semanu, Pacarejo, Candirejo dan Dadapayu.

Semanu juga dikenal dengan puluhan pengusaha pengolahan batu, yang berada di Desa Semanu. Selain menjadi pusat industri olahan dan perdagangan, di kecamatan ini juga tumbuh industri rumah tangga. Produksinya sudah menjelajah ke berbagai belahan dunia, baik Eropa, Asia dan Amerika. Industri bambu masyarakat setempat, hasilnya pun sudah berkualitas ekspor.

(Endar Widodo/Hari S)-c.
Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=104445

Posted in Cave and Karst News | Leave a Comment »

MEMBOBOL SUMBATAN AKIBAT GEMPA; Dua Ledakan Guncang Goa Bribin

Posted by gunungsewu on November 15, 2006

Sunday, 12 November 2006,
MEMBOBOL SUMBATAN AKIBAT GEMPA; Dua Ledakan Guncang Goa Bribin

WONOSARI (KR) – Ledakan kedua mengguncang kembali sungai bawah tanah ‘Goa Bribin’, Sabtu (11/11) kemarin. Akibat ledakan tersebut, sumbatan material batuan akibat gempa bumi, terus membuka. Meski demikian, serpihan batuan masih menjadi penghalang dan harus dibersihkan.

Peledakan sumbatan sungai Bribin harus dilakukan untuk menyelamatkan ‘proyek bendungan bawah tanah dan mikrohidro’ yang menelan biaya Rp 31 miliar. Pelaksanaan proyek tersebut terhenti akibat gempa bumi 27 Mei lalu yang mengakibatkan batuan sebesar 2.000 meter kubik yang berada diatas dan samping sungai runtuh sehingga menghambat alur sungai bawah tanah. Tumpukan batu tersebut berada 500 meter dari dam yang dibangun.

Menurut Kepala Satker Penyediaan Air Bersih Departemen Kimpraswil, Endang Sudarma, timbunan material batu besar tersebut, membuat air bawah tanah di dam yang dibangun naik hingga tiga meter. Akibatnya pekerja tidak bisa melanjutkan proyek tersebut.

Agar air bisa mengalir kembali, maka tumpukan batuan besar tersebut harus disingkirkan dengan ledakan. Namun untuk meledakkan bukan pekerjaan mudah, karena bahan ledak harus dapat dibawa ke batuan dengan menyelam.

Universitas Karlsruhe, Jerman, mitra dalam pelaksanaan pembangunan ini ikut membantu. Mereka mengirimkan ahli ledak yang juga Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencaan Universitas Karlsruhe, Prof Franz Nestmann.

Disamping itu juga mengirimkan dua penyelam khusus air bawah tanah, yakni Mattheias Leyr dan Marco Wedelberger. Kedua penyelam ini sudah terlatih dan siap menanggung risiko. Para penyelam ini pula yang membersihan serpihan batu, sehingga lebih mudah dilewati air.

Peledakan sungai bawah tanah ini juga dikoordinasi oleh juru ledak dari Pemkab Jember, Sudarno. Keberhasilan ledakan pertama dan kedua ini tak lepas dari kertelibatan Sudarno yang sudah berpengalaman dalam membuat ledakan di tempat pertambangan. Informasi, saran yang disampaikan Sudarno, diterima oleh pihak Jerman, setelah sebelumnya bersikeras tetap menggunakan cara mereka di Jerman.

Keberhasilan ledakan kedua ini, menurut tim pendamping ahli ledak dari Jerman, merupakan perjalanan panjang. Termasuk diantaranya menyamakan pandangan kehendak dari masing-masing pihak, yakni ahli dari Karlsruhe.

Menurut pendamping tim Jerman, Solichin, untuk membongkar batu yang menyumbat sungai, dibutuhkan 2-3 kali ledakan. Ledakan pertama yang dilakukan Rabu lalu, merupakan kerja keras tim Jerman dengan juru ledak dari Jember. Bahan peledak menggunakan Domotin yang diproduksi PT Dahana, Tasikmalaya. Bahan ini kekuatannya masih di bawah TNT.

Untuk membongkar batuan tersebut, dibutuhkan 12,5 kg bahan peledak. Dari jumlah itu, 2,5 kg lainnya digunakan untuk meledakkan batuan. Jika ledakan kedua berhasil, bisa saja sumbatan terbuka lebih lebar. Namun demikian, pihaknya belum bisa memastikan apakah berhasil atau tidak proses tersebut.

Ketua Komisi D DPRD DIY, Nazaruddin SH mengemukakan, pihaknya akan terus mengontrol program ini. Karena kontribusi dana dari APBD 2006 cukup besar.

Menurut Endang, Senin (13/11), dua penyelam Jerman tersebut akan mengecek, apakan bongkahan telah terbongkar dan tidak menghalangi alur air atau tidak. Jika masih menghalangi, maka diperlukan ledakan sekali lagi. (Jon)-b

http://www.kr.co.id/article.php?sid=102886

Posted in Cave and Karst News | Leave a Comment »

Melepas Stres di Lorong Bumi

Posted by gunungsewu on November 12, 2006

Sunday, 12 November 2006
Melepas Stres di Lorong Bumi

MENIKMATI dan mensyukuri keindahan alam, bisa menjadi obat penghilang stres. Wisata alam menjadi pilihan ketika semangat untuk susur alam sudah tak terbendung lagi. Di Bantul, selain ketenaran pantai Parangtritis dan makam raja Imogiri, masih ada objek wisata goa yang tak kalah menarik.

Terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri atau tepatnya 22 Km dari Yogya bertengger Goa Cerme yang menurut sejarahnya adalah tempat pertemuan dari para wali. Ditilik dari namanya, Goa Cerme berasal dari kata Carame (ceramah atau dakwah). Makin dikuatkan dengan bagian dalam goa yang penamaannya menggunakan istilah Islam.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyusuri goa sepanjang 1.200 meter ini. Masuk lewat dusun Srunggo, keluar dari goa sudah menginjakkan kaki di dusun Ploso, Giritirto, Panggang Gunungkidul. Meski hampir seluruh ruangan dalam Goa Cerme gelap namun pemandangan eksotiknya masih tetap bisa dinikmati.

Sebab pemandu wisata dari desa setempat telah menyediakan alat penerangan sederhana, seperti lampu petromak dan senter.

Menurut salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Cerme, Udin, semula terdapat sekitar 40 orang pemandu. Namun pasca gempa bumi 27 Mei 2006 lalu, berkurang jadi 20 orang. Goa Cerme juga tak luput dari goncangan gempa namun hanya menimpa 2 buah gardu pandang serta musala.

”Kerusakan bangunan akan diperbaiki setelah musim hujan karena menunggu pergerakan tanah stabil. Meski begitu saat Lebaran juga menjadi jujugan wisata,” ucapnya.

Lebih dalam menyusuri goa ini, alurnya yang berkelok-kelok dan dihiasi stalagtit dan stalagmit begitu menggoda. Aliran air yang jernih dan di beberapa tempat mencapai kedalaman satu meter, surga bagi yang berhobi susur goa. Terlebih saat kaki menyentuh dinginnya air penat dan stres akibat kerja perlahan hilang. Namun pada musim kemarau ini debit air di dalam goa sedikit menurun dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menyusuri lorong goa, mulai dari pintu masuk pengunjung akan menjumpai bekas panggung pertemuan, air Zamzam, mustaka, air suci, watu kaji, pelungguhan (paseban), kahyangan, grojogan sewu, air panguripan. Selanjutnya gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar.

Sumber air bernama air Zamzam (150 m), Mustaka (175 m), goa Pandu (300 m), Air Suci (400 m), Watu Kaji (400 m), goa Paseban (500 m) dan Kenthongan (500 m). Untuk mendapatkan air Zamzam di Goa Cerme tidak terlalu sulit, yakni di kedalaman sekitar 150 meter dari mulut goa. Pengunjung bisa mengambil air tersebut dalam bongkahan stalagmit berbentuk cekung. Mirip cawan raksasa berdiameter sekitar 100 Cm.

Lebih ke dalam lagi (500 m dari mulut goa) terdapat sebuah tempat lapang berukuran 3 X 3 meter atau yang dikenal dengan goa Paseban. Goa yang dilengkapi stalagtit mirip kenthongan ini menurut riwayatnya dulu digunakan para Wali sebagai tempat pertemuan.

Goa Selarong

Masih di Bantul, Goa Selarong selain dikenal sebagai objek wisata alam, dulunya dikenal sebagai pusat penghasil buah jambu biji. Sekitar tahun 1980-an, nama Goa Selarong memang identik dengan jambu biji. Sebab saat itu disekitar goa hampir semua lahan ditanami jambu biji oleh warga setempat.

Namun kini jambu itu tak lagi menjadi ciri khas Goa Selarong menyusul matinya pohon-pohon jambu biji yang ada. Walau demikian, kawasan objek wisata ini tetap memiliki pemandangan alam yang indah serta cocok untuk kegiatan Pramuka, camping dan jelajah alam.

Di masa lampau goa ini digunakan sebagai markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825-1830. Konon, Pangeran Diponegoro pindah ke Goa Selarong setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda.

Ia dan keluarga serta pengikutnya bersembunyi di goa tersebut. Ada dua goa yang dijadikan tempat tinggal Pangeran Diponegoro, satu goa untuk keluarga Pangeran Diponegoro dan satu lagi untuk pengikutnya.

Goa Selarong berlokasi sekitar 14 km arah barat daya Kota Yogyakarta tepatnya di Kalurahan Guwosari Kecamatan Pajangan.

Lokasinya di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari objek tersebut. Di sekitar GoaSelarong terdapat sentra kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan lain-lain. Pemerintah Kabupaten Bantul sedang mengembangkan kawasan Goa Selarong sebagai objek agrowisata dengan tanaman klengkengnya.

Goa Jepang

Selain Goa Cerme dan Selarong, Kabupaten Bantul juga memiliki goa lain yang cukup potensial dijadikan objek wisata. Goa ini memang belum banyak dikenal orang meski letaknya tak jauh dari Pantai Parangtritis.

Namanya Goa Jepang, yang konon merupakan bunker pertahanan Jepang pada masa Perang Dunia II. Goa yang masuk wilayah Dusun Ngreco dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, merupakan peninggalan Perang Dunia II. Sebagai sarana pertahanan militer di zaman Jepang pada tahun 1942-1945, terutama setelah Jepang mempertahankan diri dari sekutu di Indonesia .

Goa Jepang ini dibuat untuk memenuhi keperluan perang gerilya. Sebab militer Jepang memperkirakan, tentara sekutu akan datang melewati laut selatan dan mendarat di sekitar Pantai Parangtritis.

Di dalam goa ini ada 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh. Bentuk bunker tersebut beranekaragam, serta mempunyai fungsi yang berlainan pula. Misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur.

Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm, dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bunker-bunker tersebut dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi sekitar 1 m.

Pegunungan Sewu

Berbagai goa alam pun bisa ditemui di kawasan karst (kapur -red) di Pegunungan Sewu di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah seluas 13 ribu km2 ini terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Terbentang sampai ke kawasan Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur).

Selain keunikan tiada duanya berupa kerucut karst (conical limestone) yang jumlahnya sekitar 4.000 buah, kubah (doline) dan lembah (poltje), juga goa-goanya. Lengkap dengan stalagtit dan stalagmit, serta sungai di bawah tanah. Goa Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci, sering dijadikan ajang susur Goa(caving) oleh para pecinta alam.

Sedangkan Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis, merupakan goa yang menjadi objek wisata sejarah dan religius.

Sejumlah arkeolog Indonesia yang pernah melakukan penelitian ke sana menyebutkan, sekitar 4.000 tahun lampau, banyak goa di Kabupaten Gunungkidul yang merupakan bekas hunian manusia purba. Seperti di Song Tritis dan juga Goa Braholo.

Anggapan seperti ini diperkuat dengan penemuan artefak budaya megalitikum dan peti kubur berbagai ukuran dan bentuk di kawasan karst wilayah Desa Munggur, Sukoliman, dan Gunung Bang. Usia benda-benda pra-sejarah ini diperkirakan sekitar 2.000 tahun.

Terancam Penambangan

Sehingga selain sebagai ajang wisata dan olahraga alam, goa-goa di kawasan karst juga merupakan aset riset ilmiah.Namun demikian, hal ini ternyata harus berbenturan dengan kepentingan ekonomi, khususnya penambangan batu karst. Seperti di Goa Lawa yang telah menjadi sasaran penambangan.

Pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu pun mengakui, pemanfaatan goa sebagai objek wisata memang belum maksimal. Apalagi seluruh goa di Gunungkidul yang telah teridentifikasi sebanyak 119 goa! Menyebar di tujuh kecamatan, dan empat sungai bawah tanah.

Instansi itu masih berupaya menggabungkan daya tarik wisata goa dengan objek wisata sungai bawah tanah. Dalam mendayagunakan objek wisata ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gunungkidul memerlukan keterpaduan dengan aspek keilmuan untuk menghasilkan objek wisata ilmiah.(Anik P/Subchan M/Hari S)-b.
Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=102835

Posted in Cave and Karst News | Leave a Comment »