Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh : Cahyo Rahmadi dan Y.R. Suhardjono
Museum Zoologicum Bogoriense ,Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI Cibinong, Tlp:62-8159948333; email: cahyo.rahmadi@lipi.go.id
ABSTRAK
Eksplorasi gua-gua di Tumbang Topus, Kalimantan Tengah yang dilakukan dalam Ekspedisi Muller ini merupakan eksplorasi yang pertama kali dilakukan. Sebanyak 14 gua disurvai, satu gua di Puruk Cahu, dua gua di daerah Samali, Tumbang Topus dan 11 di Ponot,Tumbang Topus. Sebanyak sembilan gua dipetakan sedangkan sisanya hanya diobservasi. Dari gua yang dipetakan panjang total lorong adalah 2952 meter dengan urutan gua dari yang paling panjang yaitu Liang Hajuq (1525 m), Liang Puruk (565 m) dan Liang Hintan (222 m). Diperkirakan ada dua sistem gua yang penting yaitu Sistem Sungai Ponot dan Sistem Liang Kape Boruk. Fauna gua yang paling menarik adalah Stenasellus sp. yang merupakan catatan baru dan kemungkinan jenis baru di Pulau Kalimantan.
Kata Kunci : speleologi, Tumbang Topus, Kalimantan Tengah
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh : Thomas Suryono
Acintyacunyata Speleological Club, Jl. Kusumanega 278, Yogyakarta, Telp. 62-274-382117
ABSTRAK
Penyediaan air di daerah Kabupaten Gunungkidul, daerah dengan topografi karst adalah merupakan masalah yang hingga kini belum terpecahkan. Kekeringan di musim kemarau selalu menjadi masalah klasik dari tahun ke tahun. Masyarakat secara turun temurun bertahan hidup dengan memanfaatkan air yang bisa diperoleh dari telaga karst, penampungan air hujan (PAH), ataupun dari air tampungan di dasar gua yang sangat terbatas kesinambungannya sepanjang tahun. Ketika semua sumber tersebut habis, penduduk hanya bisa mengandalkan bantuan air dari luar daerah karst ini. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah guna mengatasi masalah ini, diawali dengan kegiatan eksplorasi gua dan survai hidrologi bawah permukaan, hingga eksploitasi air bawah tanah. Pengangkatan air kepermukaan sudah dilakukan di beberapa lokasi sistem air bawah tanah, tapi hingga kini tetap saja tidak bisa mengatasi masalah yang ada. Kondisi alam yang berbukit-bukit dengan penyebaran penduduk yang tidak merata, kapasitas air yang terpompa tidak sebanding dengan jumlah konsumen yang ada, mahalnya biaya operasional, keterbatasan lama operasi pompa, dan kerusakan jaringan distribusi, menjadi kendala. Mulai tahun 2000, telah dimulai proyek Pengelolaan Sumber Air Bawah Tanah di Gua Bribin sebagai salah satu usaha untuk menyempurnakan sistem eksploitasi air bawah tanah yang ada di daerah ini, dengan harapan dapat memecahkan masalah kelangkaan air di musim kemarau. Proyek dengan “Proper Technology” dan berkonsep “Capacity Building” menjadi salah satu harapan tidak hanya bagi warga daerah ini, tapi juga bagi daerah lain yang mempunyai masalah yang serupa.
Kata Kunci : Bribin, pengelolaan, air bawah tanah
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh : Srijono dan Nani Aldila
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta 55281
Telp. : 62-8122748172
ABSTRAK
Ponjong sebagai daerah penelitian merupakan dataran, dengan peruntukan lahan sebagai kawasan permukiman kota-kecamatan dan sawah irigasi. Metode geolistrik cara resistivitas konfigurasi Wenner diterapkan dalam penelitian ini, dan dilengkapi dengan pengamatan jejak geogenesis pada morfologi dan batuan. Hasil pengukuran secara geolistrik diperoleh ketebalan tanah penutup berkisar antara 1,8 m sampai lebih dari 6 m, dengan agihan paling tebal di utara dan paling tipis di tengah; hal ini mengindikasikan permukaan topografi sebagai dasar tanah penutup kawasan Ponjong tidak rata. Secara geogenesis Ponjong merupakan polje, tampak sebagai dataran, berada di sebelah selatan morfologi tinggian Masif Panggung dan di sebelah barat morfologi tinggian Gunung Sewu. Pembentukan Polje Ponjong terkendali oleh sesar sebagai pembatas terhadap perbukitan tersesarkan di sebelah utara, dan sesar di sebelah timur berbatasan dengan perbukitan kerucut karstt, sehingga Ponjong termasuk polje-purba struktural.
Kata kunci: geogenesis, polje-purba, Gunung Sewu
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh : Amran Achmad
Laboratorium Konservasi Biologi dan Dendrologi, Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar,
Telp. : 62-81342444945, Email: amhutan@indosat.net.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan pada ekosistem karst yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan masyarakat yang berdiam disekitar kawasan karst Maros-Pangkep. Metode yang digunakan adalah metode survei. Data tumbuhan dikumpulkan pada plot sampel berukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis tumbuhan pada habitat karst berbatu yang bernilai komersial masing-masing: untuk bahan bangunan sebanyak 20 jenis, untuk bahan obat-obatan sebanyak 53 jenis, untuk bahan makanan/minuman sebanyak 17 jenis dan untuk pakan satwa tertentu sebanyak 29 jenis. Sebaran jenis tumbuhan berguna di kawasan karst Maros-Pangkep, bervariasi menurut fasies batuan karbonat.
Kata Kunci: keanekaragaman, jenis, fasies, batuan, karst
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | 2 Comments »
Posted by gunungsewu on November 23, 2006
Oleh :Yayuk R. Suhardjono
Bidang Zoologi (Museum Zoologi Bogor), Puslit Biologi – LIPI
Widyasatwaloka Jl. Jakarta – Bogor Km 46 Cibinong
Email yayukrs@indo.net.id
ABSTRAK
Collembola gua merupakan kelompok binatang kecil yang sangat sering dijumpai di daerah karst termasuk di dalam gua. Fungsi penting utama dari colembola gua ini dalam rantai makanan didalam gua adalah sebagai perombak bahan organik. Atas dasar kepentingan ini, maka artikel ini mengetengahkan bagaimana ciri-ciri khas untuk mengenali collembola gua, keanekaragamannya di dalam gua, serta bagaimana peran serta penelusur gua dalam peneltian yang berkaitan dengan collembola gua.
Kata Kunci : collembola, gua, penelusur gua
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | 1 Comment »