Posted by gunungsewu on November 17, 2006
Oleh : Sunu Widjanarko
Yayasan ASC, Yogyakarta
ABSTRAK
Dalam vertical caving, ada sebuah metode tambatan yang dikenal luas yang disebut Y anchor. Penentu keamanan Y anchor adalah material yang dipergunakan, simpul yang dipergunakan, dan sudut yang dibentuk oleh masing-masing sisi tambatan, dan tentu saja kekuatan batuan tempat dimana tambatan akhir dari tiap sisi Y anchor tersebut. Dari semua itu terlihat bahwa faktor manusia lebih banyak berperan dalam menentukan desain yang aman. Tulisan berikut ini membahas semua faktor tersebut, kecuali yang menyangkut batuan tempat tambatan akhir.
Abstract in english
Posted in Vol 1 No 1 April 2005 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 17, 2006
MOZAIK PURBA GUNUNG SEWU: HIPOTESIS HASIL EKSPLORASI GUA-GUA ARKEOLOGIS DI KECAMATAN TANJUNGSARI – GUNUNGKIDUL
Oleh: J. Susetyo Edy Yuwono
Jurusan Arkeologi UGM
ABSTRAK
Dalam konteks kawasan karst, interaksi proses fisik – non fisik masa lalu, telah menghasilkan konfigurasi yang menarik mengenai keterkaitan antar aspek, khususnya aspek-aspek geofisik dan arkeologi. Sejauh mana keterkaitan tersebut menandai transformasi kawasan karst Gunung Sewu dalam dimensi spasial dan temporalnya, adalah gambaran umum yang ingin diungkapkan melalui tulisan singkat ini.
Berpijak pada hasil penelitian arkeologis di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY, tulisan ini juga diarahkan untuk melengkapi dan mensosialisasikan informasi mengenai kearkeologian Gunung Sewu. Penguatan data yang menjangkau dimensi spasial sekaligus temporal ini, adalah modal utama untuk merumuskan nilai strategis kawasan karst, yang dapat memandu kita ke arah pelebaran visi dan ancangan pengelolaan kawasan yang bijak.
Kata Kunci : arkeologi, mozaik purba, Gunung Sewu
Abstract in english
Posted in Vol 1 No 1 April 2005 | Leave a Comment »
Posted by gunungsewu on November 17, 2006
GEOMORFOLOGI KARST MAYOR ANTARA TELAGA SANGLEN DAN KAMAL, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, DIY
Oleh: Mufti Latif Ahmad, Suratman Woro Suprodjo, Eko Haryono
Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM
ABSTRAK
Zona Pegunungan Seribu yang sering disebut sebagai Gunung Sewu merupakan daerah dengan bentuklahan asal solusional. Proses yang didominasi oleh pelarutan ini menghasilkan topografi khas yang disebut sebagai karst. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bentuklahan akibat karstifikasi dengan lokasi penelitian antara Telaga Sanglen yang terletak di Bagian Selatan Zona Pegunungan Selatan, dan Desa Kamal yang berada di Depresi Wonosari.
Distribusi bukit karst, distribusi dan morfometri dolin, pola kelurusan didapatkan melalui interpretasi foto udara skala 1 : 25. 000. Morfometri bukit karst didapatkan dari pengukuran lapangan. Iklim, distribusi batuan, dan topografi didapatkan dari penelitian sebelumnya.
Daerah penelitian dapat dibedakan menjadi tiga wilayah yaitu wilayah selatan, tengah dan utara. Wilayah selatan, karstifikasi daerah ini dipengaruhi oleh fluktuasi air laut, sehingga terbentuk teras-teras marin. Wilayah tengah, karstifikasi yang terjadi di daerah ini mengalami karstifikasi tertua, yang didominasi oleh bukit tipe simetri dengan penutup tanah yang tebal. Wilayah utara, merupakan karstifikasi termuda, yang didominasi oleh bukit karst asimetri menghadap ke utara.
Kata kunci : geomorfologi, karst mayor, karstifikasi
Abstract in english
Posted in Vol 1 No 1 April 2005 | 1 Comment »
Posted by gunungsewu on November 17, 2006
ARTHROPODA GUA KARST GUNUNG SEWU : SEBUAH TINJAUAN
oleh: Cahyo Rahmadi
Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI Cibinong
ABSTRAK
Gunung Sewu memiliki geomorfologi yang unik dan sekaligus memiliki gua-gua yang berkembang dengan lorong-lorong yang panjang. Lima ratusan gua telah dieksplorasi dan lebih dari setengahnya telah dipetakan, namun kekayaan fauna yang ada di dalamnya belum banyak diteliti. Sampai saat ini masih sedikit Arthropoda khas gua yang dideskripsi dari Gunung Sewu. Ada empat jenis Arthropoda dalam kategori troglobit/stigobit dan dua jenis kategori stigofil yang telah dideskripsi dari Gunung Sewu. Sementara jumlah total jenis kategori troglobit dan stigobit yang ditemukan mencapai sebelas jenis baik yang sudah dideskripsi maupun yang belum.
Penelitian-penelitian yang saat ini dilakukan masih jauh untuk mengetahui kekayaan Arthropoda gua sesungguhnya di Gunung Sewu. Sedikitnya publikasi dan penelitian menyebabkan minimnya pengetahuan tentang Arthropoda Gunung Sewu. Sementara ancaman kelestarian Gunung Sewu semakin besar dengan adanya aktivitas penambangan kapur di beberapa tempat sekaligus minimnya vegetasi di permukaan yang menyebabkan peningkatan sedimentasi di perairan bawah tanah. Tantangan ke depan masih terbuka peluang untuk mengetahui keanekaragaman fauna gua di Gunung Sewu dan sekaligus mendorong untuk pertimbangan pelestarian dan pemanfaatan Gunung Sewu yang berkelanjutan.
Kata kunci : tinjauan, Arthropoda gua, Gunung Sewu
Abstract in english
Posted in Vol 1 No 1 April 2005 | Leave a Comment »