Gunung Sewu

Indonesian Cave and Karst Journal

Archive for November 10th, 2006

BERSIHKAN RERUNTUHAN BATU GOA BRIBIN ; Salah Teknik, Ledakan Pertama Gagal

Posted by gunungsewu on November 10, 2006

Thursday, 09 November 2006,
BERSIHKAN RERUNTUHAN BATU GOA BRIBIN ; Salah Teknik, Ledakan Pertama Gagal

WONOSARI (KR) – Peledakan pertama material batu di sungai bawah tanah Bribin Desa Dadapayu Semanu Gunungkidul yang dilaksanakan Selasa (7/11), gagal karena ada kesalahan teknik, sehingga harus diulang. Para ahli ledak kemudian berupaya mengulangi peledakan, Rabu (8/11).

Peledakan batu yang dilakukan juru ledak dari Jerman bekerjasama dengan juru ledak dari Pemkab Jember Jawa Timur ini mendapat perhatian dari Dubes Jerman untuk Indonesia Freherr V Mactzahn yang langsung meninjau ke lokasi bahkan turun ke sungai bawah tanah menggunakan peralatan yang dipasang di lokasi pengeboran Proyek Bribin.

“Peledakan material bebatuan dengan volume sekitar 1.000 meter kubik ini optimis bisa berhasil, karena seluruh kesiapan termasuk peralatan tidak ada masalah lagi, kesalahan teknik sudah bisa diatasi,” ujar Koordinator Peledakan Bribin Sudarno dari Pemkab Jember kepada KR.

Kunjungan Dubes Jerman kemarin juga disertai Penanggungjawab Pemasangan Tsunami Early Warning System (TWS) di Laut Hindia dekat Nanggroe Aceh Darussalam dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Karlsruhe Jerman Prof Nestman. Hadir juga Asisten Fasilitasi dan Investasi Pemprop DIY Dr Ir Sunyoto Dipl HE DEA, Bupati Gunungkidul Suharto SH, Ketua DPRD H Wagiran dan sejumlah pejabat.

Sudarno mengatakan, pembangunan bendungan sungai bawah tanah Bribin sempat terhenti pasca gempa tektonik 27 Mei lalu. Pada alur sungai bawah tanah berjarak sekitar 300 meter dari titik bendungan, terjadi reruntuhan batu sehingga menutup aliran sungai dan menyebabkan air di dalam bendungan naik sekitar 3-4 meter.

Kabid Pengairan Dinas Kimpraswil DIY Ir Joko Sasongko MM mengakui, satu-satunya cara untuk menyingkirkan material yang runtuh itu hanya dengan diledakkan. Selain juru ledak dari Jember yang sudah bersertifikat nasional, peledakan juga melibatkan juru ledak Marco Melderbergen dan juru selam Mathias Loyk dari Jerman.

Sudarno maupun Joko Sasongko mengatakan, peledakan batu tersebut maksimal tiga kali, karena ledakan pertama kemungkinan serpihannya masih cukup besar, sehingga harus ada ledakan kedua dan ketiga agar serpihannya kecil-kecil. Karena serpihan batu tersebut tidak akan diangkat ke atas, namun diupayakan terbawa arus saat banjir.

Menurut para pakar juru ledak, peledakan di dalam tanah tidak membahayakan, karena sebelumnya sudah dipelajari dengan seksama, sehingga tidak akan sampai terjadi reruntuhan susulan pada dinding goa di atas aliran sungai tersebut. Setelah batu penutup aliran sungai bisa dihancurkan, maka aliran sungai akan normal, dan pembangunan bendungan bisa dilanjutkan kembali.

Seorang petugas pembangunan bendung menambahkan, letak reruntuhan batu tersebut dari titik bendung sekitar 300 meter dan untuk mencapai lokasi tersebut harus menyelam karena air sungai cukup deras. Sedang bendungannya ada dua unit. Bendung I di sisi Timur sejauh kurang lebih 1.200 meter dari titik bendung. Lokasi itu selain jalan kaki, untuk ke sana harus menyelam.

Saat ini di sekitar lokasi pengeboran sungai bawah tanah Bribin berbagai peralatan pembangunan turbin sudah siap, tinggal pemasangan. Namun harus menunggu selesainya pembangunan bendungan. Demikian pula pipa-pipa besar untuk mengalirkan air, sebagian sudah terpasang dan sebagian lagi sudah siap di sekitar lokasi. (Awa/San)-n

http://www.kr.co.id/article.php?sid=102409

Posted in Cave and Karst News | 1 Comment »

Sungai Bribin Tersumbat, Diledakkan; Akibat Gempa, Longsoran Capai 1000M3

Posted by gunungsewu on November 10, 2006

Wednesday, 08 November 2006,
Sungai Bribin Tersumbat, Diledakkan; Akibat Gempa, Longsoran Capai 1000M3

YOGYA (KR) – Akibat gempa bumi tektonik 27 Mei lalu, kelanjutan pembangunan Proyek Bribin di Semanu Gunungkidul, terganggu. Sebab, gempa tersebut menyebabkan bebatuan di dinding Goa Bribin longsor. Diperkirakan longsoran bebatuan mencapai 1.000 meter kubik dan sebagian menutup sungai di bawah tanah. Untuk mengeluarkannya, bisa diatasi dengan cara meledakkan reruntuhan tersebut.

“Tidak mudah tentunya untuk mengeluarkan longsoran material batu di dalam goa tersebut. Setelah bisa dikeluarkan, baru pembangunan Proyek Bribin bisa dilanjutkan. Bahkan kemungkinan bebatuan itu harus diledakkan dulu supaya bisa diangkut keluar,” ujar Wakil Bupati Gunungkidul Hj Badingan SSos saat berdialog dengan Komisi VII DPR RI di Kepatihan Yogyakarta kemarin.

“Batu-batu tersebut perlu diledakkan dulu sebelum diangkut ke luar. Kami perkirakan untuk mengangkut material bebatuan itu dibutuhkan sekitar 250 truk. Setelah itu baru bisa dilaksanakan kembali pengerjaan selanjutnya,” kata Badingah.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) DIY, Ir Bayudono, akibat timbunan material, pelaksanaan pembangunan proyek Dam Bribin menjadi tertanggu, setelah air menutupi lokasi pekerjaan. Agar air sungai bawah tanah tersebut dapat mengalir kembali ke arah lautan, maka timbunan lapisan tanah dan batu yang menutupi alur sungai harus dibuka. Membuka kembali alur tersebut cukup sulit dan harus dilakukan dengan meledakkan timbunan yang menutupi sungai.

Dikemukakan, untuk meledakkan, memang harus mendapat izin dari instansi yang berwenang, seperti kepolisian dan militer dan izin tersebut telah dikantongi. “Saat ini kita tinggal mencari ahli yang dapat meledakkan sumbatan sungai Bribin tersebut. Jangan sampai ledakan yang ditimbulkan tidak tepat,” ujarnya.

Tertimbunnya alur sungai bawah tanah Bribin ini mengundang keprihatinan Komisi D DPRD DIY. Menurut Wakil Ketua Komisi D, Supriyono SIP, proyek Goa Bribin ini sebagian dananya diambil dari APBD DIY. Sehingga pihaknya akan meninjau proyek pasca gempa.

Sementara mengenai pengembangan potensi sumber energi alternatif lainnya, Badingah mengungkapkan, di Kabupaten Gunungkidul tahun ini memang mulai dikembangkan tanaman jarak pagar seluas 77.000 hektar atas kerjasama Pemkab Gunungkidul dan Pemprop DIY. Sedang komoditas lain yang juga dikembangkan yakni tanaman singkong seluas 662.000 hektar. “Direncanakan penanaman jarak pagar untuk pengembangan bioenergi tersebut selesai tahun 2007 secara bertahap. Namun apabila sampai 2007 belum selesai, akan dilanjutkan pada tahun berikutnya,” katanya.

Menurut Badingah, kendati tanaman jarak sangat potensial dikembangkan di Gunungkidul sebagai sumber energi alternatif, namun untuk proses produksi maupun pengolahannya hingga menjadi bioenergi, masih menunggu investor. “Karena itu kami juga berharap agar Komisi VII DPR RI dapat membantu mencarikan investor tersebut,” ucap Badingah.

Sedang untuk tanaman singkong seluas 662.000 hektar direncanakan untuk mendukung penyediaan bahan energi etanol. Sebelumnya singkong tersebut diproses lebih dulu menjadi gaplek, mengingat harga gaplek lebih baik dibandingkan harga singkong basah, yaitu sekitar Rp 700 perkilogram untuk gaplek dan hanya Rp 150-Rp 200 perkilogram untuk singkong basah.

Mengenai pengembangan sumber energi di Parangracuk Gunungkidul, Wabup Gunungkidul mengungkapkan, pihak Pemkab Gunungkidul telah bekerjasama dengan BPPTK. Di kawasan tersebut telah diujicobakan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA), serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). “Listrik tenaga surya ini sedang dikembangkan di Pantai Gesing Panggang, khususnya untuk rumah Transmigrasi Ring I, di mana di daerah tersebut belum ada listrik dan jauh dari jaringan listrik yang ada,” paparnya. (San/Fia/Jon).

Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=102407

Posted in Cave and Karst News | Leave a Comment »