Pemetaan Jadi Prioritas Rekonstruksi
Posted by gunungsewu on November 29, 2006
Posted in Cave and Karst News | 1 Comment »
Posted by gunungsewu on November 29, 2006
Posted in Cave and Karst News | 1 Comment »
Posted by gunungsewu on November 29, 2006
Posted in Cave and Karst News | No Comments »
Posted by gunungsewu on November 28, 2006
Sunday, 26 November 2006
DIGELAR DESEMBER 2006; Penjelajahan Bengawan Solo Purba
DITILIK dari namanya, memang merupakan situs purba. Namun panorama alamnya sangat indah dan dapat menarik perhatian banyak wisatawan. Bagi mereka yang tak ingin susah mendalami riwayat sungai Bengawan Solo, dapat menjelajah wilayah ini dengan menikmati cekungan yang rendah ditengah bukit-bukit menjulang.
Ya, Dinas Pariwisata Gunungkidul akan menggelar acara spektakuler, menjelajah situs Bengawan Solo Purba. Menyusuri bentangannya yang panjang, dari Sadeng hingga Wonogiri Jawa Tengah. Kegiatan yang akan digelar bulan Desember ini akan diikuti para pecinta alam, pemerhati warisan budaya dan masyarakat kebanyakan.
Napak tilas ini untuk mengenang alur sungai Bengawan Solo, yang dulu alirannya pernah ke Laut Selatan. Tetapi sekarang berbelok ke laut Jawa. ”Sudah tentu event ini juga dimaksudkan untuk membangun objek wisata baru didaerah ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul H Suhardono S.Sos didampingi Kasi Objek Wisata Drs Bambang Sukemi MM.
Bagi wisatawan yang pernah mengunjungi pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, sebenarnya sudah melintas sebagian kawasan Bengawan Solo Purba. Karena sebagian kawasannya berada di tanjakan Telaga Suling yang curam.
Meski demikian bagi yang tak memperhatikan, tak terlintas di pikiran, wilayah tersebut semula merupakan aliran Bengawan Solo. Tetapi jika dicermati, jauh membujur ke arah utara merupakan bekas alur sungai yang besar yang mengalir dicelah-belah bukit yang menjulang.
Dialihkan Proses Tektonik
Mengutip beberapa penelitian, Bambang Sukemi MM menyatakan peralihan aliran sungai Bengawan Solo ini karena terjadinya proses tektonik. Ketika itu terjadi, kecepatan pengangkatan (up lift ) tidak diimbangi oleh proses penggerusan aliran Bengawan Solo.
Akibatnya alirannya terbendung dan terbentuk danau, disekitar daerah Baturetno dan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Lambat laun genangan air itu mempunyai jalan keluar (outlet) menuju daerah yang lebih rendah ke arah utara. ”Sehingga menjadikan Bengawan Solo mengalir ke Laut Jawa sampai sekarang,” tambahnya.
Akibatnya, Sadeng yang semula menjadi aliran sungai Bengawan Solo kini tinggal riwayatnya saja.
”Barangkali juga dapat dicermati lirik lagu keroncong Bengawan Solo yang dibawakan Gesang. Di dalamnya antara lain menyebut alirannya sampai jauh, terkurung gunung seribu. Sehingga kebenaran aliran ke Laut Selatan merupakan kenyataan sejarah,” jelasnya.
Sejatinya, Dinas Pariwisata Gunungkidul sudah beberapa kali melakukan kegiatan yang berkaitan dengan keberadaan Bengawan Solo Purba. Sudah banyak pula para ahli melakukan penelitian. Serta juga sejumlah wisatawan dengan minat khusus yang berdatangan.
Tetapi acara jelajah Situs Bengawan Solo Purba ini diharapkan merupakan momentum untuk mengajak banyak orang berdatangan ke lokasi bekas aliran sungai Bengawan Solo. Peserta jelajah nanti akan berjalan kaki menyusur bekas aliran sungai tersebut.
”Jika dulu merupakan aliran sungai, biarlah kini menjadi aliran wisatawan yang masuk wilayah Gunungkidul. Sebab kegiatan ini diharapkan tak hanya menambah jumlah jenis wisata. Tapi juga menjadi maskot baru yang dapat menyedot kunjungan wisata,” ucap Bambang Sukemi.
Telaga Jonge
Telaga Jonge di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, juga menarik untuk digarap menjadi wisata alternatif lainnya di Gunungkidul. Selain alur Bengawan Solo purba dan kawasan karst Pegunungan Sewu. Air di telaga seluas 4,5 hektar ini sepanjang tahun tak pernah kering.
”Selama ini Kecamatan Semanu kini dikenal sebagai kawasan industri olahan batu. Sebab hampir seluruh pabrik gilingan batu di Gunungkidul berada di wilayah Mijahan, desa Semanu. Tetapi ke depan pemerintah kecamatan segera menggarap pengembangan Telaga Jongke sebagai wisata air di Gunungkidul, yang selama ini identik dengan pantai,” kata Camat Semanu, Drs Sujarwo MSi, didampingi Sekcamnya, Drs Wastono, dalam perbincangan beberapa waktu lalu.
Tak hanya wisata air saja, imbuhnya, di lokasi itu juga dikembangkan keramba apung, pusat jajan dengan menu ikan dan berbagai jenis wisata lain, yang diharapkan memikat wisatawan. Jarak jangkaunya pun sangat dekat dari pusat perkotaan. Telaga Jonge terletak dekat dengan pemukiman penduduk, tetapi tetap mempunyai hamparan padang yang luas.
Sehingga wisatawan dapat menikmati panorama alam yang indah dan alami. ”Di seputar telaga ini dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Penggemar memancing dapat menyalurkan kegemaran dengan mengitari telaga, tanpa harus berdesakan,” tambah Sujarwo.
Kecamatan Semanu yang berbatasan dengan Kota Wonosari, selama ini dikenal dengan Goa Bribin-nya, yang memiliki sumber air tawar. Kecamatan yang luas wilayahnya 4.666.2385 hektar ini, mempunyai penduduk 58.602 jiwa yang tersebar di lima desa. Masing-masing Ngeposari, Semanu, Pacarejo, Candirejo dan Dadapayu.
Semanu juga dikenal dengan puluhan pengusaha pengolahan batu, yang berada di Desa Semanu. Selain menjadi pusat industri olahan dan perdagangan, di kecamatan ini juga tumbuh industri rumah tangga. Produksinya sudah menjelajah ke berbagai belahan dunia, baik Eropa, Asia dan Amerika. Industri bambu masyarakat setempat, hasilnya pun sudah berkualitas ekspor.
(Endar Widodo/Hari S)-c.
Sumber: http://www.kr.co.id/article.php?sid=104445
Posted in Cave and Karst News | No Comments »
Posted by gunungsewu on November 24, 2006
Oleh : Langgeng Wahyu Santosa
Jurusan Geografi Fisik, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada 55281
Telp.: 62-8122705450;email: wahyus_72@yahoo.co.id
ABSTRAK
Kawasan Karst di Kabupaten Gunungkidul merupakan kawasan yang spesifik dengan berbagai fenomena kekayaan alam dan hayatinya. Bukit-bukit berbentuk kerucut, lembah drainase berupa dolin, sistem gua-gua dan sungai bawah tanah yang berpotensi besar akan sumberdaya air, dan berbagai kekayaan flora-fauna, menjadikan kawasan karst ini sebagai kawasan cocok untuk mendukung fungsi konservasi alam dan hayati. Di sisi lain, kawasan karst merupakan kawasan yang kaya akan potensi bahan galian berupa batugamping. Hal inilah yang kemudian mendorong manusia untuk melakukan penambangan, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maraknya aktivitas penambangan di Kawasan Karst Kabupaten Gunungkidul, telah berakibat pada kerusakan lahan yang semakin meningkat. Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan lahan cukup serius pada kawasan karst ini adalah Kecamatan Ponjong dan Wonosari. Sebagian besar aktivitas penambangan yang memicu kerusakan lahan adalah penambangan rakyat, khususnya penambangan liar yang tidak berijin. Pada akhir penambangan, bentuk aktivitas ini tanpa diikuti oleh kegiatan reklamasi lahan-lahan bekas penambangan.
Kata kunci: karst, penambangan, kerusakan lahan
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | No Comments »
Posted by gunungsewu on November 24, 2006
Oleh : Tjahyo Nugroho Adji
Kelompok Studi Karst, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta, 55281
Telp. :62-8122967492 ; email: adji_bruang@yahoo.com
ABSTRAK
Karst merupakan daerah berbatuan gamping dan dikenal sebagai kawasan yang unik secara geomorfologi karena bentuklahan permukaannya yang ”cantik” dan spesifik yang tidak dapat ditemukan pada unit geomorfologi yang lain. Meskipun demikian, karena sifatnya yang mudah larut dalam air, topografi karst memilki sistem air bawah permukaan yang dominan berupa lorong-lorong solusional dan sangat rentan terhadap degradasi, terutama terhadap kontaminasi air bawah tanah. Hal ini disebabkan karena cepatnya aliran air serta minimnya mekanisme filter pada lorong-lorong sistem bawah tanah. Tulisan ini membahas bagaimana metode-metode klasifikasi yang sudah dikembangkan untuk menilai tingkat kerentanan terhadap pencemaran air di kawasan karst serta mengkaji peran parameter geomorfologi yang digunakan pada metode-metode tersebut. Tulisan ini akan didahului dengan sedikit deskripsi mengenai geomorfologi karst dan kemudian banyak mengetengahkan contoh-contoh cara mengklasifikasikan kerentanan air bawah tanah karst, dan memberi justifikasi tentang andil parameter-parameter geomorfologi yang digunakan.
Kata kunci : metode, kerentanan karst, geomorfologi
Posted in Vol 2 No 1 April 2006 | No Comments »